Tidak semua polisi..

Nopember 2nd, 2009 by esemge

Mereka adalah lilin yang menyala

Oktober 7th, 2009 by esemge

Ketika sebuah lilin dinyalakan,ia tak peduli berada dimana,yang ada adalah ia harus terbakar.Membakar diri sendiri untuk menghasilkan terang untuk siapa saja.

Relawan relawan yang berada di lokasi bencana gempa Sumatra Barat saat ini adalah contoh nyata tentang filosofi sebuah lilin. Mereka adalah jiwa-jiwa yang berani membakar diri sendiri,ego mereka demi sebuah kata kemanusiaan.
Para relawan itu ,sudah memberi contoh nyata kepada kita bagaimana mereka berhasil melampaui batas batas agama,kesukuan dan ego manusia,yang terkadang menjadi tembok kokoh pengkotakan manusia.

Tanya pada mereka ,apakah mereka hanya mau menolong orang yang seagama dengan mereka?Tanya pada mereka apa mereka mengucurkan keringat demi orang yang satu suku atau satu bangsa dengan mereka?
Saya yakin bahwa mungkin kata kata agama,suku dan bangsa tidak pernah terpikirkan dalam benak mereka.Yang mereka lihat hanyalah manusia ,ciptaan Tuhan yang sedang menderita dan pantas mendapatkan pertolongan.

Jangan pula tanyakan arti jihad,martir ,mati suci pada mereka .Sebab wacana yg kita mengerti tentang itu ,hanya kita perdebatkan terus di forum-forum diskusi.Mereka sudah menelanjangi kita dengan perbuatan nyata mereka .Mereka sudah membakar diri mereka ,ego mereka untuk dapat membantu korban korban bencana itu.Mereka adalah orang orang yang sudah melampaui batas batas agama dan kesukuan demi sebuah kata :kemanusiaan .

Lalu kenapa kita tidak bisa meniru mereka?
Kenapa kita masih meributkan kotak kotak yang membatasi kita menjadi manusia yang dikasihi Tuhan?

Tulisan yang tidak seberapa ini ,saya dedikasikan untuk para relawan gempa di Sumbar,khususnya warga Politikana yang terlibat di dalamnya.
Terimakasih bung,mas ,mbak atas contoh yang anda berikan. Semoga diri kalian yang telah terbakar habis untuk menerangi sesama,terhindar dari panasnya api neraka.SALUT untuk kalian.

Tulisan dan komentar juga dapat dilihat di politikana.com

Kita sedang dipersiapkan menjadi bangsa besar

September 11th, 2009 by esemge

Memaknai hidup bagi tiap individu memang berbeda-beda.Demikian juga dalam melihat suatu peristiwa.Sudut pandang yang beraneka ragam inilah yang memungkinkan hidup ini menjadi ‘hidup’.
Peristiwa peristiwa yang terjadi belakangan ini ,terus terang memang sangat tidak menyenangkan bagi kebanyakan rakyat Indonesia.Gempa bumi yang beruntun terjadi,kelaparan,masalah Bank Century,rencana pelantikan anggota MPR/DPR yang ternyata menghabiskan dana lebih dari 40 milyar dan lain lain.
Ironis memang kalau memikirkannya,seolah olah Negara kita ini tak henti-hentinya dirundung berbagai cobaan.Cobaan dalam negri ini,harus diperparah oleh klaim klaim malaisia terhadap pulau dan kebudayaan kebudayaan kita.
Lalu apakah dengan semua cobaan yang diberikan Tuhan itu ,kita harus selalu bersungut-sungut,mengarahkan telunjuk kita pada orang atau bangsa lain dan mengatakan damn you!!
Lalu apa bedanya kita sama orang lain ?
Marilah kita berpikir jernih,endapkan semua emosi untuk melihat kenyataan yang sebenarnya.
Bencana alam ,kelaparan kemiskinan bukan terjadi hanya pada bangsa Indonesia saja,mungkin hampir semua negara pernah mengalaminya .
Demo demo rakyat terhadap pemerintah juga bukan monopoli bangsa kita.Ketidakpuasan adalah salah satu sisi mata uang dalam hidup ini ,dan itu adalah wajar.
Persoalannya bisakah kita berpikir,semua bencana dan carut marut yang terjadi di negara kita diberikan Tuhan dengan tujuan apa?Untuk menghancurkan negara kita?
Tuhan memberikan cobaan ,tak pernah melebihi kemampuan manusia.Dia lebih tahu mana cobaan dan ujian yang sanggup kita hadapi,itu kata pemimpin-pemimpin agama kita.
Jadi kalau memang cobaan dan ujian yang diterima bangsa ini,mampaknya tidak berkesudahan,seharusnya ucapan syukur yang pantasnya kita panjatkan.Seorang pembuat keris,bila akan menciptakan karya yang bagus tentu akan menempa baja nya berulang ulang,dipanasi kemudian dipukul lagi..begitu seterusnya .
Saat inipun bangsa kita sedang dipukuli dan dipanaskan berkali-kali dengan berbagai cobaan.Gempa diberikan kepada kita,mungkin karena rasa kemanusiaan kita yang kurang.Klaim klaim malisia mungkin dimaksudkan Tuhan untuk mempertebal solidaritas dan kemanusiaan serta kepedulian kita,Banyak cara Tuhan yang kadang tidak kita mengerti saat ini,namun berguna bagi kita nantinya.
Jadi kalau memang bangsa ini sedang dipersiapkan Tuhan untuk menjelma jadi bangsa besar di kemudian hari,apakah kita sebagai bagian dari Indonesia ,hanya berdiam diri dan hanya bisa menggerutu?
Seyognyanya kita juga harus mempersiapkan diri menjadi bagian di dalamnya.Kalaupun memang akhirnya dari kita tidak bisa menikmati menjadi bangsa yang besar nantinya,paling tidak kita bisa mempersiapkan generasi penerus kita. Semoga !!

Kemerdekaan sejati lahir dari keberanian mengikuti kata hati

Agustus 14th, 2009 by esemge

Sebuah kalimat yang terpampang disebuah spanduk dari salah satu perusahaan rokok.Spanduk berwarna dasar merah dan putih ini akan segera mengingatkan kita ,bahwa sebentar lagi ,kita sebagai bangsa Indonesia akan memperingati Hari Kemerdekaan yang ke-64,tanggal 17 Agustus ini.
Ada hal menarik yang bisa kita renungkan bila membaca tulisan diatas.Merdeka dan Kata Hati.
Merdeka didalam Wikipedia berarti saat dimana seseorang mendapatkan hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak bergantung sama orang lain.Sinonimnya adalah kebebasan.
Kata hati,hati nurani,memang sulit untuk menjelaskan secara teori,bahkan di Wikipedia,kata hati atau hati nurani belum tersedia penjelasannya.Mungkin gambaran yang paling tepat suara hati atau kata hati adalah ‘ sesuatu yang terdengar seperti bisikan lembut yang hanya bisa dimengerti oleh orang tersebut’
Contoh yang paling gampang adalah pada saat kita mengambil barang yang bukan punya kita,pasti dalam hati kecil kita ada yg mengatakan ‘jangan’ atau ketika di jalan kita melihat anak kecil meminta-minta,pertama kali yg terdengar oleh kita mungkin kata ‘kasihan’.
Suara ini akan berbeda di tiap individu,bagi orang yang terbiasa melatihnya ia akan terbiasa ,dan begitu juga sebaliknya.
Kembali ke soal kemerdekaan tadi ,bisakah kita dikatakan merdeka atau bebas apabila kita masih dipusingkan oleh untung-rugi tindakan yang akan kita lakukan? Ketika misalnya tetangga disebelah rumah kita meminjam uang untuk berobat,kita masih berpikir’ ah,jangan jangan nanti tidak dikembalikan ,atau sebenarnya aku kasihan tapi ,minggu depan aku harus bayar ini itu….’ Itukah kata hati? Bukan ,itu adalah hasil pikiran pikiran kita ,yang keluar dari perhitungan untung rugi.Orang jaman sekarang lebih senang menggunakan pikiran-pikiran yang ada diotaknya,karena dengan demikian ia dikatakan manusia rasional.Salahkan?Tentu saja tidak.Tuhan saja menciptakan manusia dengan otak untuk berpikir,maka seharusnya kita juga bisa memaksimalkan fungsi otak kita.Tapi jangan lupa Tuhan menciptakan juga manusia dg hati,yang sejatinya merupakan fungsi kontrol,terhadap tindakan kita,maka kita juga harus bisa memaksimalkan nya.
Ketika kita bisa bertindak dan berperilaku sesuai kata hati kita masing masing ,maka kita akan dikatakan orang yang benar-benar merdeka.
Selamat mencoba dan Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-64.MERDEKA

Kita yang ( seolah-olah) tahu.

Agustus 11th, 2009 by esemge

Seorang tetangga yang biasa ngobrol dengan saya,hari itu tiba-tiba tertunduk lesu.Raut muka sedih terpancar dari wajah tirus,menunjukan beban berat yang dialaminya.Bukan karena tidak punya uang,karena baginya itu sudah biasa..juga bukan karena bertengkar dengan istrinya.
Karena sudah biasa ngobrol dengan dia selama berjam-jam,maka dua gelas kopi dan sebungkus rokok aku sajikan.( Hehe..ngobrol seru tanpa rokok ,kaya orang padu/bertengkar)
Akhirnya pengakuan itu muncul juga…putrinya hamil!! gubrak!! glondang!! Hah!!
Keterkejutan saya ,untungnya tidak sampe numpahin kopi yang masih panas…Anakmu hamil? gimana ceritanya?Dihisapnya rokok dalam dalam,kemudian meluncurlah pengakuan ini: (kaya dipersidangan ya) iya si Bunga ( nama samaran-biar seperti di koran) yang seharusnya 3 bulan lagi UN ,ternyata hamil sama teman sekelasnya.Bunga yang bisa dibanggakan ,karena prestasi akademiknya,Bunga yang kelihatan baik dan tekun belajar..dan semua kebaikan lain,yang tidak akan habis diceritakan .
Kisah diatas sebenarnya sudah terlupakan ,seandainya akhir-akhir ini berita di tv tidak menayangkan hal serupa.Bukan kemamilan anak-anak dibawah umur,melainkan kisah orang-orang yang kaget atas perilaku anak-anaknya.
Berita tentang tertangkapnya atau ditembak mati,orang-orang yg dituduh teroris.
Coba lihat dengan seksama,ketika orang tua,kakak,saudaranya,atau bahkan tetangga sekitarnya ,ditanya bagaimana sebenarnya kelakuan mereka?Jawabanya pasti sama.
‘dia itu orang baik,tidak pernah itu,tidak pernah ini…tapi ya kok bisa terlibat terorisme?’
Dalamnya laut,bisa diukur,dalam hati siapa yang tahu?Ungkapan ini mungkin pas untuk menggambarkan kondisi tersebut.
Kita tidak pernah bisa menduga apa yang ada di hati setiap orang,yang kita nilai adalah perbuatan .Gambaran yang sudah tertanam sejak kecil,adalah yang sering kita pakai untuk menilai.Ketika kita melihat orang yang rajin ibadahnya,kita sudah menganggap bahwa orang itu baik.
Ketika kita melihat seseorang,membagikan hartanya untuk orang miskin ,kita menilai orang itu suci,dermawan,atau apalah…kita memang sering melihat kata-kata ,tanpa mau melihat kenyataan.ketika akhirnya kenyataan muncul ,lain dari kata kata yang kita ungkapkan ..yang bisa kita bilang cuma ‘lho kok bisa begitu ya’
Orang tua ,dari anak anak yang disangka teroris juga hanya menilai selama ini dia itu orang baik,bahkan tetangga yang saya ceritakan diatas juga berucap demikian,atau bahkan mungkin kita sendiri seringkali melakukan hal yang sama,menilai seseorang dari tampilan luarnya saja atau tampilan sesaat untuk kemudian kita mengambil kesipulan bahwa si A ini orangnya begini,si B itu orangnya begitu…
Saya masih menghargai tetangga saya diatas,ketika akhir obrolan dengannya munculah kata-kata bijaksana ‘ ya ,mungkin itu salah saya juga ,terlalu percaya seratus persen,..
Mengambil tanggung jawab dan tidak menimpakan kesalahan pada orang adalah cara lain untuk mengetahui bahwa ternyata kita ini sok tahu..
Sudahkah kita tahu atau ternyata kita yang seolah-olah tahu?

Mari Berubah !

Agustus 10th, 2009 by esemge

Sebuah kata bijak ,kalau engkau melewati jalan berkerikil ,pakailah sepatu.jangan menggelar karpet di jalan berkerikil .sehingga engkau bisa lewat
Sekarang ini ada kesan bahwa bila di pimpin si A,indonesia akan maju..bila dipimpin si b kita akan bangkrut.
Siapa yang dapat menjamin ,bahwa presiden yang kita pilih,akan bisa mengakomodir kepentingan seluruh rakyat?
Ada yang beranggapan bahwa masyarakat kita masih banyak yang miskin.Benar atau salah tergantung dari sudut mana kita memandang.
Ketika menyaksikan rakyat yang berdesak-desakan mengambil BLT,kelihatannya memang masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan,tetapi ketika di lapangan ,penerima BLT,ada yang menggunakan untuk membeli pulsa,atau bahkan membelikan HP ,apa yang kita pikirkan?
Bahwa rakyat kita ada yang miskin ,itu harus kita akui,tapi bukankah semua negara didunia mengalaminya?
Lalu apakah kita harus menggantungkan seluruh harapan agar Indonesia bisa maju,sejahtera,dan damai di pundak seorang pemimpin?
Kekecewaan lah yang akan kita dapati.Kekecewaan yang timbul karena angan angan kita yang terlalu tinggi tidak dapat diakomodasi.
Mending kalau kita mau instropeksi diri,kalau kita kemudian menyalahkan orang lain ,apa nggak bisa jadi berantem?
Lalu mengapa kita tidak berusaha untuk mengubah diri kita sendiri saja.?
Mengubah cara pandang kita selama ini .Kalau ingin sejahtera ,ya kita harus bekerja lebih keras,kreatif,syukur syukur bisa membantu orang lain untuk menciptakan lapangan pekerjaan.
Kalau kita bilang hentikan dominasi pihak asing,ya jangan beli produk mereka,belanja di pasar tradisional..jangan belanja di supermaket modern yang sahamnya di miliki orang luar! Kalau ingin bebas dari korupsi ,mulai dari diri sendiri tertib dan disiplin dalam segala hal.Banyak sekali hal-hal kecil ,yang bila kita lakukan ,pada saatnya nanti bisa mengubah Indonesia menjadi lebih baik.
Bayangkan bila 230 juta penduduk Indonesia mau mengubah diri sendiri,dan menjalankan tugas masing-masing, Indonesia akan lebih maju dan sejahtera…semoga!